kongres-kebudayaan-gorontalo

????????????????????????????????????

GORONTALO – Semakin tergerusnya nilai-nilai budaya Gorontalo yang berkembang di masyarakat, mendorong Universitas Negeri Gorontalo sebagai lembaga pendidikan dalam melestarikan budaya Gorontalo sebagai identitas masyarakat.

Hal ini ditunjukkan dengan digelarnya Kongres Kebudayaan Gorontalo, Selasa (8/11), di Ballroom TC Damhil UNG.

Dalam kongres kebudayaan ini, UNG turut serta menggandeng Pemerintah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/Kota, para dewan adat, tokoh adat, pelaku adat Gorontalo hingga kalangan akademisi, untuk terlibat langsung dalam membicarakan arah pelestarian budaya Gorontalo.

Dekan FSB Dr. Harto Malik, M.Hum selaku penggagas Kongres mengungkapkan, pelaksanaan kongres kebudayaan mengusung tema konservasi Kebudayaan dan Lingkungan. Tema ini diusung sebagai upaya dalam melestarikan kebudayaan sekaligus lingkungan, dimana salah satu kegiatan kongres mengagendakan pencanangan penanaman ratusan tanaman adat Gorontalo.

“Kongres juga mengagendakan beberapa kegiatan lain seperti seminar kebudayaan, penganugerahan ilomata award bagi pelaku budaya Gorontalo, hingga pertunjukan kesenian daerah,” ungkap Dr. Harto.

Rektor UNG Prof. Syamsu Qamar Badu, M.Pd, menuturkan, kebudayaan merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian UNG. Hal ini tentunya sejalan dengan visi UNG 2035 yakni Leading University dalam pengembangan kebudayaan dan inovasi berbasis potensi Regional dikawasan Asia Tenggara.

Selain itu, kongres kebudayaan kali ini menjadi ajang silaturahmi akademisi, Pemerintah Daerah, lembaga dan dewan adat, tokoh serta pelaku adat. Dalam berdiskusi membicarakan solusi atas eksistensi budaya Gorontalo yang dihadapkan dengan permasalahan karakter dan keterbukaan informasi.

Sementara itu PLT Gubernur Prov. Gorontalo Prof. Dr. Zudan Arief Fakrulloh, menyambut baik kongres kebudayaan Gorontalo, yang digagas oleh UNG. Terlebih kongres ini mengusung tema yang cerdas, yakni konservasi Kebudayaan sekaligus konservasi Lingkungan.

“Kebudayaan harus berjalan seiring dengan kualitas lingkungan. Karena kualitas kebudayaan yang semakin baik, maka kualitas lingkungan juga harus dilestarikan,” ringkas Prof Zudan. (wahid)